Tugas membuat Cerpen

Pengabdian untuk sang Ibu

    Di SMAN 2 Sumedang, Dini Andriyani seorang murid kelas XII adalah anak yang cerdas dengan cita-cita ingin membahagiakan ibunya, yang sekarang sedang terbaring lemah karena sakit liver yang dideritanya sudah hampir 2 tahun belakangan ini.

    Dalam keseharianya Dini sekolah dan bekerja, pekerjaannya adalah sebagai buruh tukang cuci baju di rumah tetangga tetangganya sepulang sekolah. Upah dari pekerjaan tersebut Dini gunakan untuk menyambung hidup ia dan ibunya. Karena Dini sudah tidak mempunyai ayah ketika dia masih kelas 2 SD. Semenjak ibunya sakit Dini berusaha untuk menafkahi ibunya, walaupun dengan hasil yang pas pasan.

    Siang ini Dini baru pulang sekolah lalu dia masuk ke kamar dan meletakan tas serta membereskan seragam yang ia kenakan tadi pagi. Ia bergegas menemui ibunya yang sedang memotong kayu bakar di dapur rumahnya, maklum ibunya tidak boleh kerja terlalu keras karena sakit yang dideritanya, kemudian Dini berkata :

“Ibu, biar Dini bantu membereskan kayu bakar yang sudah ibu potong ya (sambil memindahkan potongan kayu bakar)”

    Setelah selesai membereskan kayu bakar, Dini kemudian makan siang bersama ibunya dilajutkan solat dzuhur. Waktu menunjukan pukul 2 siang hari tandanya Dini harus segera ke rumah tetangganya untuk mencuci baju.

    Lain dengan hari biasanya, tetangga baru Dini yang baru saja pindah dari Jakarta kini memanggil dia kerumah untuk mencuci bajunya. Ketika Dini sudah berada di rumah tesebut, langkah Dini terhenti ketika ia melihat 5 orang anak perempuan yang sedang berbincang-bincang dan tertawa terbahak-bahak. Namun ketika salah seorang anak menengok ke arah Dini seakan-akan dia memberikan kode kepada teman-temannya bahwa ada orang asing yang sedang memperhatikan mereka. Suasana berubah menjadi hening seketika, dan anak tersebut menghampiri Dini sambil berkata :

“kamu siapa? mau ngapain? Ko datang mengendap-endap? Kamu mau maling ya?” (sambil menunjukan telunjuk ke arah Dini)

“bukan, saya bukan maling, saya tukang cuci baju mba”

“oooh, maaf aku Sarah baru pindah disini dan mamah belum banyak cerita tentang kamu, yaudah cuciannya di dekat kamar mandi”

    Lalu Dini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk memulai pekerjaannya. Rasanya Dini ingin bergabung dengan Sarah dan teman-temannya untuk sekedar berkenalan dan mengobrol, namun Dini merasa minder dengan penampilan dia yang kucel dan lusuh.

   Keesokan harinya ketika Dini sedang jalan kaki menuju sekolah, tiba-tiba ada mobil berhenti didepannya, dan saat Dini menengok ternyata Sarah menggunakan mobil diantar oleh supirnya dan mengajak Dini untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Awalnya Dini menolak karena malu, namun karena paksaan Sarah akhirnya merekapun berangkat bersama-sama.

    Ternyata hari ini Sarah pertama kali masuk sekolah di SMAN 2 Sumedang, karena sekolah ini adalah sekolah yang paling terjangkau karena jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Sarah dan Dini.

    Sesampainya di Sekolah Sarahpun diperkenalkan oleh gurunya didepan kelas, kebetulan Sarah dan Dini dipersatukan di kelas XII A dan merekapun duduk sebangku. Selama mata pelajaran berlangsung Dini dan Sarah sangat aktif di kelas.

    Ketika pulang sekolah tugas biasa yang wajib Dini kerjakan adalah mencuci baju di rumah Sarah. Kali ini bukan hanya mencuci baju, Dini juga diajak bermain serta belajar bersama Sarah.

    Banyak waktu Sarah dan Dini lewati bersama, hingga masa penglepasan siswa dan siswi SMAN 2 Sumedang datang, berkat kegigihan dan dukungan dari Sarah akhirnya impian Dini terwujud, ia mendapatkan beasisiwa ke Kampus Favorit di Jakarta. Dan penyakit liver ibunyapun sudah sembuh berkat uang hasil dari mencuci baju serta bantuan biaya dari para tetangga.

Sarah berkata :

“Selamat ya Din, aku bangga jadi sahabat kamu, sekarang kamu lanjutkan kuliah di kampus yang kamu idam idamkan” (sambil menepuk pundak Dini)

“iya Sarah, saya sangat beterima kasih sama kamu yang udah mau dukung saya, besok saya akan ke Jakarta, saya titip ibu ya sama kamu”

    Tibalah saatnya Dini untuk pergi ke Jakarta melanjutkan kuliah di salahsatu kampus Favorit yang ia impi-impikan. Di Jakarta Dini hidup sendiri tanpa ditemani ibunya, karena ibu Dini bekerja sebagai petani dan bercocok tanam di kampung halaman. Uang yang dihasilkan ibunyapun untuk bekal Dini di Jakarta nantinya.

    Malam sebelum Dini berangkat ke Jakarta, ia berpamitan kepada Sarah, teman-temannya, tetangganya, dan pasti kepada ibunya. Malam itu ibu Dini sangat merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh gadis semata wayangnyauntuk melanjutkan kuliah. Terlontar kalimat dari ibu untuk dini :

“Neng, kamu baik-baik ya disana, harus rajin beribadah kepada Allah, agar neng dijauhkan dari godaan syaitan dan pengaruh buruk” (sambil meneteskan air mata)

“iya bu, neng akan jaga diri baik-baik, dan akan meluangkan waktu untuk menghubungi ibu, jangan sedih ya bu neng akan selalu inget prinsip neng, neng ingin menjadi perawat agar bisa mengobati warga di kampung bu”

“neng adalah harapan ibu satu satunya”

    Dan kemudian malam itu mereka habiskan waktu untuk bersama-sama, karena keesokan harinya Dini akan segera meninggalkan ibu dan kampung halamannya.

     Setelah sesampainya di Jakarta Dini terheran heran dia bisa mengunjungi Monumen Nasional (Monas) sambil sujud syukur dan berkata :

“Alhamdulillah ya Allah akhirnya saya bisa menginjakan kaki di Monas, yang selama ini saya hanya melihatnya di Tv saja” (sambil meneteskan air mata karena terharu).

    Hari demi hari Dini jalani dengan tegar tanpa seorang ibu disisinya, hanya meluapkan kerinduannya melalui telepon genggam saja. Pekerjaan Dini yang dulu sering ia lakukan ketika di kampung halaman tetap ia jalankan yaitu sebagai buruh cuci baju dan cuci piring.

    Belum selesai menimba ilmu di kota orang, belum sempat memberikan kebahagian untuk ibunya, suatu hari Dini mendapat kabar bahwa ibunya telah meninggal dunia karena kondisinya sudah tua renta. Dini sangat depresi saat itu, namun ia menyadari bahwa dengan terus menerus mengikuti kesedihanya tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi terhadap ibunya. Dini berjanji akan membahagiakan ibunya dengan cara ia akan mengabdikan diri di panti jompo.

    Cita-cita ia menjadi perawat akhirnya terlaksanakan, sekarang Dini bekerja sebagai suster di sebuah panti jompo. Ia sangat merasa sedih melihat nasib para orang tua yang tinggal disini, mereka dibuang secara perlahan dari keluarganya, diasingkan dan dijauhkan dengan alasan orang tua hanya merepotkan saja.

    “tuhan, saya akan menjaga nenek-nenek dan kakek-kakek disini dengan segala kekuatan saya, dengan kesabaran dan saya janji saya akan membuat mereka bahagia, sebagaimana saya membahagiakan alm ibu saya, ijinkan saya untuk menghabiskan sisa hidup saya bersama mereka ya tuhan, aamiin” (doa yang terucap dari mulut Dini).

    Seorang wanita datang bersama nenek tua dan menghampiri Dini:

“suster, saya titip ibu saya ya, saat ini saya sedang banyak kerjaan di rumah, mulai dari mengurus rumah tangga dan karir saya sebagai pengusaha, saya tidak ada waktu untuk mengajak ibu jalan-jalan, ibu sudah terlalu tua dan susah diatur, saya cape suster, dari pada saya tambah dosa setiap hari marah-marahin dia karena dia keras kepala jadi saya mohon suster jagain ibu saya ya. Seminggu sekali saya akan tengokin ibu disini. Makasih suster” (ucapnya)

    Wajah nenek tersebut nampak sedih, dan matanya berkaca-kaca. Lalu wanita tersebut bicara kepada ibunya

“bu maafin aku ya, aku sibuk sekarang, aku janji akan selalu jenguk ibu disini kalo aku punya waktu senggang ya, aku pergi bu”

    Tanpa sepatah katapun dari Dini dan nenek tersebut, wanita itu berbalik badan dan meninggalkan mereka. Miris dan kesal yang Dini rasakan, ia ingin marah terhadap wanita tersebut namun itu bukan merupakan haknya, Dini hanya seorang perawat, bukan penasehat.

        Dini menghantarkan nenek tersebut untuk beristirahat dikamarnya. Sambil berkata kepada nenek

“ibu, jangan sedih ya, disini banyak teman yang akan menghibur ibu, ada saya juga yang akan selalu jagain ibu”

     Namun nenek tersebut hanya diam dan diam saja tanpa menghiraukan kalimat dari Dini.

    Saat malam tiba, dan semua pekerjaan Dini sudah selesai ia menyempatkan diri untuk membuat sebuah catatan kecil semata-mata untuk meluapkan emosi dan unek-unek yang ia rasakan. Tulisan itu berisi :

Pernahkah kalian membayangkan

suatu hari kalian hanya bisa berbaring di atas kasur?

Menghabiskan waktu kalian hanya untuk beristirahat?

Melihat dengan sedikit cahaya dari lebarnya jendela tua?

Mendengar suara dari suster yang memberikan kalian makanan?

Hanya bunyi dari dinginnya angin bertiup kedalam ruangan yang gelap, kotor dan sempit..

Terdiam adalah sahabatmu..

Tidak ada perhatian yang diharapkan dari seseorang yang kita sayangi..

Ingatan di masalalu yang membuat kalian senyum..

Hidup hanya menunggu ajal menjemputmu, dan kematian akan mendekatimu..

Mungkin jika kamu bisa membeli kematian, kau akan membeli itu.

Tidak masalah berapa banyak kau harus membayarnya…..


Inspirasi dari : Aditya Muslim (Perawat Wanna Be)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s